Memperkaya informasi atau maklumat adalah aktivitas para pemikir. Informasi atau maklumat bisa didapatkan dari berbagai sumber, namun yang paling populer adalah buku atau karangan ilmiah. Oleh sebab itu para pemikir -baik mereka sadari maupun tidak- memiliki 'rutinitas' terhadap buku atau pun bacaan, guna menambah maklumat atau informasi.
Hal ini berhubungan dengan teori berpikir dimana untuk melangsungkan aktivitas berpikir maka wajib terdapat empat unsur, yaitu: fakta atau fenomena; panca indera untuk mengindera fakta atau fenomena; otak yang sehat; dan informasi terdahulu (maklumat) yang terkait dengan fakta/fenomena tersebut. Oleh sebab itu, mustahil bagi seseorang untuk berpikir jernih dan menilai sesuatu dengan benar tanpa adanya salah satu dari keempat unsur di atas.
Seseorang yang berupaya memaksakan untuk mengeluarkan pikiran dengan hanya mengandalkan unsur fakta, panca indera, dan otak tanpa menambahkan unsur informasi/maklumat yang terkait dengan fakta tersebut maka akan jatuh ke dalam upaya menerka-nerka semata atau berasumsi. Implikasinya adalah segala hasil pemikiran dari upaya tersebut mendekati kepada khayalan, tidak layak (fatal) untuk dijadikan pemikiran dasar untuk melahirkan cabang-cabang pemikiran lainnya.
Misalkan, pemikiran tentang 'wujud mata Allah SWT'. Sejauh ini tidak ada satu pun dasar informasi/maklumat yang meyakinkan (sahih) terkait 'wujud mata Allah SWT', selain pembahasan tentang keberadaan (eksistensi Allah SWT) dan sifat-sifatNya semata. Jika ada yang berupaya untuk 'memaksa' membahas terkait 'mata Allah SWT' maka itu adalah pembahasan yang sia-sia dan ujungnya hanya menghasilkan asumsi-asumsi atau khayalan. Sebab tidak ada dasar maklumat yang cukup untuk berpikir dan menilai hal tersebut.
Seorang Arab tidak bisa membaca tulisan Cina, meskipun ia telah banyak mengoleksi buku bertuliskan Cina bertahun-tahun lamanya. Seorang Arab akan mengetahui makna dari tulisan-tulisan Cina hanya jika telah datang informasi/maklumat terkait makna tulisan Cina tersebut melalui kamus-kamus atau sumber informasi lainnya.
Atas dasar tersebut, dapat disimpulkan bahwa semakin kaya maklumat seseorang terkait fenomena atau fakta tertentu maka semakin ia memahami fenomena atau pun fakta tersebut. Semakin mampu pula ia untuk berpikir lebih jernih dan mendalam.
Inilah salah satu fungsi mendasar dari maklumat. Tanpa maklumat tidak akan ada aktivitas berpikir. Memaksakan berpikir tanpa maklumat maka itu hanya akan melahirkan sebuah asumsi bahkan khayalan. Tanpa keberadaan dan perbendaharaan sumber-sumber informasi/maklumat maka tidak akan ada sosok-sosok pemikir. Sebab aktivitas dari sosok-sosok pemikir adalah berpikir. Dan aktivitas berpikir mensyaratkan adanya sumber infromasi/maklumat.[]
.jpeg)
0 Komentar untuk "Urgensitas Memperkaya Informasi"
santun