Al- Tahtawi (1801-1873) adalah sosok pemuda Mesir yang terkagum dengan peradaban Eropa, dan telah berkontribusi membawa berbagai pemikiran 'baru' ala Eropa ke dunia Islam, khususnya di Mesir. Al- Tahtawi mendapatkan peran yang cukup strategis dari Muhammad 'Ali Pasa, Gubernur Mesir pada masanya, untuk menyerap berbagai pemikiran Eropa melalui negara Perancis, khususnya terkait Politik dan berbagai pemikiran yang berhubungan dengan harapan agar 'Mesir dan Negeri Islam pada umumnya dapat lebih maju'. Tulisan mengenai Al- Tahtawi sebelumnya bisa di baca di Distorsi Konsep "Tanah Air" dalam Dunia Islam, Part 1.
Al- Tahtawi kemudian diangkat oleh Muhammad 'Ali Pasa untuk mengepalai sebuah biro penerjemah di Sekolah Bahasa Asing yang didirikan pada 1836. Biro ini berhasil menerjemahkan ribuan buku-buku Eropa ke dalam bahasa Arab dan Turki yang kemudian memenuhi toko-toko buku Mesir.
Al- Tahtawi sendiri berhasil menerjemahkan sekitar 20 buku seputar geografi, sejarah, dan teknik militer sebagai permintaan langsung dari Muhammad 'Ali Pasa. Sang pasa Mesir ini begitu terobsesi dengan riwayat penguasa dan para jenius perang Eropa. Al- Tahtawi menerjemahkan untuknya biografi kaisar Peter Agung dari Rusia karangan Voltaire, biografi Kaisar Romawi Suci Charles V karangan William Robertson, dan tulisan Montesquieu yang berjudul Considérations sur les Causes de la Grandeur des Romains et de leur Decande (Pandangan tentang sebab-sebab bangkit dan runtuhnya Roma). Pilihannya untuk menerjemahkan karya Montesquieu ini bukanlah permintaan dari Muhammad 'Ali, melainkan inisiatif pribadi al-Tahtawi.
Al- Tahtawi menulis pula al-Mursyid al-Amin li al Banat wa al-Banin (Petunjuk bagi Pendidikan Putra dan Putri), dimana di dalamnya ia menjelaskan arti penting pendidikan yang bersifat universal dan sama bentuknya untuk semua golongan. Menurut al-Tahtawi, tujuan pendidikan bukanlah hanya mengejar ilmu pengetahuan, tetapi terutama untuk membentuk kepribadian dan menanamkan rasa 'cinta tanah air'. (hubb al-watan). Di sini, kata watan dan hubb al-watan digunakan berulang-ulang kali dengan pemaknaan yang berbeda dari yang dipahami kaum Muslim sebelumnya tentang arti kata watan.
Bersambung...
-------------
Referensi: Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda, Nico Pandawa, 2021.

0 Komentar untuk "Distorsi Konsep "Tanah Air" dalam Dunia Islam, Part 2"
santun