Hal ini sempat diekspresikan oleh penyair kenamaan Pakistan, Sri Muhammad Iqbal (1877-1938) yang mengutarakan bahwa: “Cina dan Arab adalah milik kita, Hindustan adalah milik kita / kita adalah Muslim, dan seluruh dunia adalah tanah air kita” (chin-o- ‘arab hamara, hindustan hamara / muslim hain ham, vatan hai sara jahan hamara).
Inilah pemaknaan Istilah watan (tanah air) sebelum mengalami distorsi. Perubahan makna watan dimulai sekitar tahun 1800-an, dimana nilai-nilai kebangsaan mulai dikenalkan dunia Barat ke tengah-tengah dunia Islam. Persepsi watan (tanah air) dikalangan kaum Muslim yang sebelumnya mencakup seluruh dunia Islam mengalami penyempitan dan ditekankan artinya hanya pada “tanah tumpah darah” seseorang.
Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (1801-1873), adalah salah seorang cendekiawan Muslim di Mesir yang terpengaruh peradaban Eropa melalui Perancis. Dialah salah satu tokoh yang membawa pemahaman tentang “tanah air” versi Eropa ke dunia Islam. Awalnya, al-Tahtawi adalah salah satu pelajar pilihan al-Azhar dan murid kesayangan Muhammad ‘Ali Pasa (1770-1849), yakni Gubernur Mesir di masanya. Hal itu berkat kesungguhan dan ketajaman pikiran al-Tahtawi.
Di era pemerintahannya, Muhammad ‘Ali sering mengirim anak-anak muda Mesir ke Eropa untuk belajar di sana. Beliau sangat tertarik dan terinspirasi dengan kemajuan Eropa. Namun beliau membatasi untuk mengadopsi semua hal, dan lebih menyoroti soal pemerintahan, militer, perekonomian, serta hal-hal yang akan memperkuat kedudukannya.
Pada tahun 1826, al-Tahtawi diutus untuk menjadi Imam bagi para pelajar yang dikirimkan Muhammad ‘Ali ke Paris. Al-Tahtawi tinggal di Paris selama lima tahun. Dan di masa itu ia tidak sekedar mengisi kesehariannya bekerja sebagai imam bagi para pelajar Mesir, tapi juga menekuni literatur-literatur Perancis.
Pemikiran “Revolusi Perancis” punya pengaruh permanen dalam diri al-Tahtawi. Dalam bukunya Takhlis al-Ibriz fi Talkhis Bariz (intisari dari Kesimpulan Tentang Paris), al-Tahtawi menceritakan kesan-kesannya selama tinggal di Paris, di samping juga membeberkan pengetahuan-pengetahuan yang merupakan 'misi utama' dikirimnya beliau beserta pelajar-pelajar lainnya ke Eropa, yaitu terkait sistem pemerintahan dan adat istiadat Eropa. Karena pentingnya arti buku ini untuk mengetahui kemajuan Eropa bagi orang Islam saat itu, Muhammad ‘Ali menganjurkan agar pegawai-pegawai pemerintahan membaca buku tersebut.
sambung part 2 di sini...[]
Referensi: Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda, Nico Pandawa, 2021).

0 Komentar untuk "Distorsi Konsep "Tanah Air" dalam Dunia Islam, Part 1"
santun